
Ella, anak saya yang sekarang duduk di kelas 2 SD, sedang berada di puncak kariernya sebagai penggemar K-pop. Kalau dunia per-fandom-an punya levelisasi, barangkali ia sudah layak menjabat jendral bintang 3 di usianya sekarang.
Idolanya saat ini adalah Stray Kids. Saya tahu itu bukan karena ia pernah bercerita panjang lebar, melainkan karena lagu-lagu mereka sudah menjadi semacam soundtrack resmi di mobil kami. Saya, yang referensi musik Koreanya mentok di original soundtrack Goblin, pelan-pelan mulai hafal nama-nama personelnya, walau sampai hari ini tak pernah berhasil mencocokkan satu nama pun dengan wajahnya.
Suatu hari, Ella pulang membawa kabar penting. Sekolahnya akan kedatangan tamu dari Korea. Untuk urusan apa, tak ada yang tahu persis, termasuk Ella. Tapi bagi Ella, itu tidak penting. Yang penting: orang Korea. Dan yang lebih penting lagi: ia terpilih menjadi salah satu penyambut tamu.
Wajahnya waktu itu berbinar seperti orang yang baru saja dilantik jadi duta besar.
Sejak hari itu, rumah kami berubah menjadi lembaga kursus bahasa Korea tingkat dasar. Annyeonghaseyo diulang-ulang di ruang tamu, di meja makan, pun di kamar.
Masalah muncul ketika ia sampai pada kalimat perkenalan.
“Naneun Ella imnida,” katanya mantap.
Saya, yang pengetahuan bahasa Koreanya hanya sedikit lebih banyak dari anak kelas 2 SD, merasa ada yang janggal.
“Kalau sama tamu, lebih sopan pakai jeoneun, Nak. Jeoneun Ella imnida.”
“Nggak, Bapak. Kata ustadah pakainya naneun.”
“Ustadah siapa?”
“Ustadah Asri”
Ustadah Asri adalah guru kelasnya. Dan tentunya, saya tidak punya bantahan jika sudah dibandingkan dengan ustadah Asri. Di depan Ella, menyanggah ustadah Asri sama saja dengan menyanggah dalil.

Perdebatan berlangsung beberapa ronde. Saya mengajukan argumen kesantunan, Ella mengajukan argumen kata gurunya. Argumen bahwa saya pernah pergi ke Korea pun, tidak dianggap olehnya. Saya kalah telak. Di rumah kami, otoritas seorang Bapak ternyata masih kalah dengan otoritas ustadzah.
Pernah saya juga mengoreksi speechnya, ketika dia menjadi penampil di acara open house sekolahnya. Tapi sekali lagi pengajaran gurunya seperti hal mutlak, meskipun bapak ibunya pernah tinggal di negara berbahasa Inggris untuk kurun waktu yang lama.
Ya, tapi saya beruntung punya istri Nurul. Ibunya Ella. Entah dengan jurus apa, ibunya berhasil meyakinkan Ella bahwa jeoneun memang lebih pantas untuk menyambut tamu. Saya curiga jurusnya sederhana saja: yang mengatakannya bukan saya.
Yang tak saya sangka, Ella ternyata bukan tipe yang menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri. Saat latihan di sekolah, ia memberi tahu guru dan teman-temannya bahwa yang benar adalah jeoneun. Dan semuanya diubah. Satu rombongan penyambut tamu merevisi naskahnya gara-gara seorang anak kelas 2.
Di titik itu saya sempat bangga. Ilmu dari bapaknya bukan hanya diamalkan, tapi juga diajarkan dan disampaikan. Walau tentu saja, dalam versi Ella, ilmu itu datang dari ibunya.
Hari H pun tiba.
Ella bangun lebih pagi dari biasanya. Ini peristiwa yang layak dicatat dalam sejarah keluarga, sebab di hari-hari biasa, membangunkan Ella memerlukan tiga kali panggilan, satu kali ancaman, dan satu kali negosiasi. Pagi itu, ia sudah mandi, berseragam rapi, dan berdiri di depan pintu jauh lebih awal daripada biasanya.
Saya tahu persis apa yang ada di kepalanya. Ia akan bertemu orang Korea. Dan bagi Ella, orang Korea hanya ada tiga jenis: Stray Kids, BTS, dan, kalau perempuan, Blackpink. Tidak ada kategori keempat.
Sore harinya, Ella pulang dengan wajah yang tidak perlu ditanya.
Masam.
Ibunya bercerita sepanjang perjalanan pulang hanya diam. Membisu.
Tamu yang datang memang orang Korea. Asli, bukan KW. Hanya saja, mereka bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Berpakaian rapi, ramah, murah senyum. Tidak ada yang rambutnya dicat. Tidak ada yang menari.
Kekecewaan Ella rupanya sempat meletus di tempat. Ketika teman-temannya serempak mengucapkan jeoneun, kata yang ia sendiri perjuangkan, Ella justru kembali ke naneun. Sendirian. Satu-satunya naneun di tengah jeoneun.
Saya sempat ingin menggodanya. Tapi kemudian saya urungkan. Barangkali di kepala Ella, jeoneun memang hanya diperuntukkan bagi Stray Kids. Sopan santun, rupanya, juga punya target pasar.
Malamnya, saya mencoba menghiburnya.
“Nggak apa-apa, mbak. Stray Kids juga nanti bakal jadi bapak-bapak.”
Ella menatap saya dengan tatapan yang menyiratkan bahwa bapaknya baru saja menistakan sesuatu yang sangat suci. Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan.
Ekspektasi memang sering tak sejalan dengan realita. Orang dewasa sudah lama tahu itu, walaupun tetap saja tak pernah benar-benar siap tiap kali mengalaminya. Ella mempelajarinya lebih awal, lewat jalur yang tak pernah saya bayangkan: sebuah delegasi Korea paruh baya.
Saya ingin berterima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu Korea itu. Mereka datang entah untuk urusan apa, tapi pulang meninggalkan pelajaran yang tak tercantum di agenda kunjungan mana pun, untuk Ella. Dan tentu hikmahnya juga untuk bapak dan ibunya.
Dan saya, tentu suatu saat nanti juga akan jadi bapak-bapak paruh baya, yang tidak bisa menari dan rambutnya juga tidak dicat, menyadari satu hal: di mata Ella, jangan-jangan saya pun masuk kategori yang sama dengan tamu-tamu itu, tidak terlalu istimewa, bukan karena Stray Kids, tetapi di masa itu ia mungkin lebih mengistimewakan suami dan anaknya. Itu tidak mengapa. Tapi saya tetap berharap, Ella tetap sering menyapa Bapak. Pakai naneun pun, Bapak terima.