Pak Menteri, Ini Bukan Soal Naik atau Tinggal Kelas

Bersama Pak Menteri Pendidikan sebelum Wacana Tidak Lagi Otomatis Naik Kelas

Pekan lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menanggapi wacana bahwa mulai tahun ajaran 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas. Usulan itu mencuat dalam Konvensi Pendidikan Indonesia XII di Universitas Pendidikan Ganesha, dan Pak Menteri menyatakan siap menindaklanjutinya bila menjadi rekomendasi konvensi.

Alasan yang beliau sampaikan patut direnungkan oleh setiap guru. Menurut beliau, banyak murid mengikuti apa yang disebutnya rumus RMS: “rajin malas sama saja.” Toh semuanya naik kelas.

Saya sepakat dengan diagnosis itu. Tetapi saya ragu dengan obatnya. Dan menurut saya, perdebatan tentang naik atau tidak naik kelas justru bisa mengalihkan perhatian kita dari persoalan yang lebih mendasar.

Fenomena RMS itu nyata. Di banyak sekolah, usaha tidak punya konsekuensi yang terasa. Anak yang belajar sungguh-sungguh dan anak yang asal hadir sama-sama menerima rapor, sama-sama pindah ke kelas berikutnya, dan sama-sama dianggap “tuntas”. Lama-lama, anak belajar satu pelajaran yang keliru: bahwa kesungguhan itu opsional.

Perlu dicatat dengan adil: Pak Menteri sendiri menegaskan bahwa kebijakan ini bukan dimaksudkan sebagai hukuman, melainkan untuk membangun karakter dan budaya belajar. Beliau juga menyatakan pemerintah tidak akan terburu-buru dan masih memerlukan kajian akademik serta masukan para ahli. Tulisan ini saya maksudkan sebagai sumbangan kecil untuk kajian itu.

Pertanyaan yang perlu diajukan sederhana: apakah tinggal kelas membuat anak belajar lebih baik?

Bukti internasional cukup konsisten menjawab: umumnya tidak. Teaching and Learning Toolkit dari Education Endowment Foundation (EEF) di Inggris, yang merangkum ratusan penelitian, mencatat bahwa siswa yang mengulang kelas rata-rata justru tertinggal sekitar tiga bulan dibanding teman sebandingnya yang naik, padahal mereka sudah menjalani satu tahun tambahan. Intervensi ini juga mahal, dan berkaitan dengan risiko turunnya harga diri, sikap apatis terhadap sekolah, serta angka kelulusan yang lebih rendah.

Mengapa bisa begitu? Karena mengulang setahun dengan cara yang sama berarti mengulang pengalaman gagal yang sama. Anak yang tidak naik kelas sering tidak tahu persis mengapa ia gagal. Ia hanya tahu bahwa ia gagal.

Ada pula efek yang lebih halus. Ancaman tinggal kelas memang bisa membuat anak tampak lebih rajin. Tetapi rajin karena takut berbeda dengan rajin karena sadar. Anak yang takut tinggal kelas belajar untuk menghindari tinggal kelas, bukan untuk memahami. Jalan pintasnya pun banyak: menghafal menjelang ujian, menyontek, atau sekadar memenuhi angka minimal.

Menurut saya, RMS tidak hanya lahir karena tidak adanya konsekuensi. RMS lahir karena anak tidak punya cermin untuk melihat proses belajarnya sendiri.

Bayangkan dua anak yang sama-sama mendapat nilai 60 di ulangan matematika. Anak pertama berkata, “Saya memang tidak bisa matematika.” Anak kedua berkata, “Saya paham konsepnya, tapi belum banyak latihan soal cerita. Pekan ini saya fokus ke situ.”

Nilainya sama. Tindak lanjutnya bisa jadi sangta berbeda. Anak kedua sedang melakukan apa yang para ahli sebut metakognisi: berpikir tentang cara ia berpikir. Ia merencanakan, memantau, lalu mengevaluasi belajarnya sendiri.

Di sinilah buktinya menjadi sangat kontras. Dalam toolkit EEF yang sama, pendekatan metakognisi dan regulasi diri menempati posisi teratas: rata-rata tujuh bulan kemajuan tambahan dalam setahun, dengan biaya sangat rendah dan kekuatan bukti yang tinggi.

Minus tiga bulan untuk tinggal kelas. Plus tujuh bulan untuk metakognisi. Kalau kita sungguh ingin melawan rumus RMS, ke mana seharusnya energi kebijakan diarahkan?

Ada satu temuan lagi yang membuat persoalan ini mendesak. Marilyn Price-Mitchell, dalam tulisannya di Edutopia, merujuk riset yang menunjukkan bahwa pertumbuhan terbesar kemampuan metakognitif terjadi pada usia 12 hingga 15 tahun. Itu persis usia SMP. Jendela emas ini terlalu berharga untuk diisi dengan ancaman, alih-alih latihan.

Pak Menteri benar dalam satu hal penting: siswa yang belum menguasai kompetensi tidak semestinya otomatis dianggap siap melangkah. Prinsip ini sangat saya setujui.

Masalahnya ada pada ukuran gerbangnya. Gerbang setahun sekali terlalu besar dan datang terlalu terlambat. Vonis diberikan di bulan Juni, padahal yang dibutuhkan anak adalah umpan balik setiap pekan, ketika masih ada waktu untuk memperbaiki.

Inilah gagasan Mastery Learning yang dirumuskan Benjamin Bloom sejak lama: anak tidak melanjutkan ke unit berikutnya sebelum menguasai unit yang sedang dipelajari, dan ia segera mendapat bantuan korektif. Ini sebenarnya adalah “tidak naik kelas” dalam skala mikro, tetapi tanpa stigma, tanpa kehilangan setahun, dan selalu disertai jalan perbaikan.

Di SMP Al Hikmah IIBS Batu, kami berusaha menanamkan metakognisi bukan sebagai mata pelajaran tambahan, tetapi ke dalam struktur belajar sehari-hari melalui Self-Managed Learning (SML). Prinsipnya: anak memegang kendali atas proses belajarnya, di dalam rambu yang jelas.

Dalam praktiknya, ada empat kebiasaan yang kami latih:

  • Menulis target belajar pekanan sendiri. Ini latihan merencanakan.
  • Mengatur jadwal belajar mandiri di asrama. Ini latihan mengelola diri.
  • Mendiagnosis sendiri materi yang belum dikuasai melalui Mastery Learning, sebelum melanjutkan ke materi berikutnya. Ini latihan memantau.
  • Menutup setiap pekan dengan refleksi tertulis: apa yang berhasil, apa yang tidak, dan apa yang akan diubah. Ini latihan mengevaluasi.

Keempatnya adalah siklus metakognisi itu sendiri. SML bukan sekadar “belajar sendiri”. Ia adalah sekolah untuk mengenal pikiran sendiri.

Saya perlu jujur: ini tidak mudah. EEF sendiri mengingatkan bahwa dampak besar metakognisi sulit diwujudkan dalam praktik, karena menuntut siswa memikul tanggung jawab lebih besar atas belajarnya, dan sangat bergantung pada pemahaman guru. Ada anak yang awalnya bingung ketika diminta menentukan targetnya sendiri. Ada guru yang perlu belajar ulang, dari peran penyampai materi menjadi perancang kondisi belajar. Kami masih terus memperbaikinya.

Tetapi arahnya jelas. Anak yang terbiasa bertanya “apa yang belum saya pahami?” tidak memerlukan ancaman tinggal kelas untuk bersungguh-sungguh. Kesungguhannya tumbuh dari dalam.

Gagasan ini sebenarnya tidak asing dalam tradisi kita. Ada atsar masyhur dari Umar bin Khattab: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Analoginya terasa pas. Keputusan naik atau tinggal kelas adalah hisab di akhir tahun, saat semuanya sudah terlambat diubah. Metakognisi adalah muhasabah harian dan pekanan, saat perbaikan masih mungkin dilakukan. Para ulama mengajarkan muhasabah untuk amal; sekolah semestinya melatihnya juga untuk ilmu.

Karena Pak Menteri membuka ruang masukan, izinkan saya menawarkan beberapa pertimbangan:

  1. Jadikan kompetensi, bukan tahun, sebagai gerbang. Jika tujuannya memastikan siswa siap melangkah, gerbang yang lebih kecil dan lebih sering akan jauh lebih efektif daripada satu vonis tahunan.
  2. Wajibkan umpan balik formatif dan refleksi siswa yang terstruktur, sehingga anak tahu posisinya jauh sebelum akhir tahun.
  3. Investasikan pada pelatihan guru dalam mengajarkan metakognisi. Bukti menunjukkan efektivitasnya sangat bergantung pada pemahaman guru.
  4. Jika tinggal kelas tetap diberlakukan, jadikan pilihan terakhir dengan rencana intervensi individual, bukan sekadar mengulang hal yang sama selama setahun.

Perdebatan tentang naik atau tidak naik kelas berisiko membuat kita sibuk dengan pertanyaan yang salah. Yang benar-benar penting bukan apakah seorang anak naik kelas, melainkan apakah ia bisa berkata dengan jujur:

“Saya tahu apa yang belum saya pahami, dan saya tahu cara mengejarnya.”

Sekolah yang berhasil melatih kemampuan itu tidak memerlukan ancaman untuk melawan rumus RMS. Karena bagi anak yang mengenal pikirannya sendiri, rajin dan malas tidak akan pernah sama saja.

Rujukan

CNN Indonesia (8 Oktober 2026). Mendikdasmen Buka Suara soal Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas 2027. Berita bisa dibaca di sini: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20261008110026-20-1413005/mendikdasmen-buka-suara-soal-wacana-siswa-tak-otomatis-naik-kelas-2027

Education Endowment Foundation. Teaching and Learning Toolkit: Metacognition and Self-Regulation; Repeating a Year. Bisa diakses di sini: https://educationendowmentfoundation.org.uk/education-evidence/teaching-learning-toolkit/metacognition-and-self-regulation

Price-Mitchell, M. (2015). Metacognition: Nurturing Self-Awareness in the Classroom. Edutopia. Bisa dibaca di sini: https://www.edutopia.org/blog/8-pathways-metacognition-in-classroom-marilyn-price-mitchell

Edutopia. Research-Backed Tools: What Works in Education (ringkasan EEF Toolkit). Bisa dibaca di sini: https://www.edutopia.org/article/research-backed-tools-what-works-in-education/

Bloom, B. S. (1968). Learning for Mastery.

Tinggalkan Balasan