
Paul Piff dan timnya pernah melakukan eksperimen sederhana namun mengusik. Dua orang bermain monopoli, tapi salah satunya sengaja diberi keuntungan sejak awal — uang lebih banyak, gaji dobel, dua dadu sekaligus. Yang menarik bukan siapa yang menang. Yang menarik adalah bagaimana si pemain “kaya” berubah selama permainan berlangsung. Ia jadi lebih agresif, lebih dominan, bahkan mulai mengolok lawan yang kalah. Dan ketika ditanya kenapa bisa menang, ia memuji strateginya sendiri — nyaris tanpa menyebut bahwa sistem memang dirancang menguntungkannya sejak awal.
Eksperimen lain memperkuat pola yang sama. Orang berpenghasilan rendah menyumbangkan persentase yang jauh lebih besar dari uang mereka dibanding orang kaya. Peserta yang “dibuat merasa kaya” mengambil dua kali lipat lebih banyak permen yang disediakan untuk anak-anak. Mobil mewah lebih sering mengabaikan pejalan kaki di zebra cross dibanding mobil biasa.
Namun Piff menyimpan temuan terpentingnya di bagian akhir: semua perilaku ini bukan takdir. Hanya dengan menonton video kemiskinan anak selama 46 detik, empati peserta kalangan atas pulih sepenuhnya. Masalahnya bukan karakter yang rusak — tapi jarak. Jarak antara seseorang dengan realita penderitaan orang lain, yang semakin melebar seiring naiknya posisi sosial dan ekonomi.
Sebuah studi meta-analisis dari University of Michigan yang dilakukan oleh Sara Konrath menemukan bahwa mahasiswa saat ini sekitar 40 persen lebih rendah tingkat empatinya dibandingkan rekan-rekan mereka dua atau tiga dekade yang lalu. Penurunan terbesar terjadi setelah tahun 2000, bersamaan dengan meluasnya media sosial dan platform komunikasi digital.
Yang lebih mengkhawatirkan, penurunan paling tajam terjadi pada dua dimensi empati yang paling esensial: Empathic Concern (kepedulian terhadap penderitaan orang lain) dan Perspective Taking (kemampuan melihat dunia dari sudut pandang orang lain). Dua hal yang justru paling dibutuhkan untuk hidup berdampingan dalam masyarakat yang beragam.
Ini bukan sekadar tren Amerika. Ini adalah sinyal tentang arah generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang semakin individual, semakin digital, dan semakin terisolasi dari realita di luar gelembung sosialnya sendiri.
Data dari dunia penelitian menunjukkan konsekuensi yang nyata ketika empati tidak dirawat sejak dini di lingkungan sekolah. Korban bullying di sekolah kerap mengalami kecemasan, depresi, absensi berlebihan, performa akademik yang buruk, gangguan makan, harga diri rendah, kesepian, bahkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan bunuh diri.
Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology menegaskan bahwa kurangnya empati adalah salah satu prediktor utama perilaku bullying. Para peneliti merekomendasikan agar sistem pendidikan secara aktif membangun konsensus sosial di sekolah — bahwa agresi tidak pernah bisa dibenarkan — sekaligus melatih guru untuk membantu siswa mengenali dan merespons emosi teman-temannya.
Sebuah meta-analisis yang melibatkan 25.012 siswa remaja dari 27 penelitian berbeda menunjukkan bahwa empati secara signifikan berkorelasi dengan perilaku membela korban (bystander defending). Artinya, semakin tinggi empati seorang siswa, semakin besar kemungkinan ia akan turun tangan ketika menyaksikan temannya diperlakukan tidak adil.
Dan bagaimana kondisi Indonesia sendiri? KPAI melaporkan bahwa sepanjang 2023 terdapat 3.800 kasus perundungan, hampir separuh di antaranya terjadi di sekolah dan pesantren. Data dari PISA 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 41,1% siswa di Indonesia mengaku pernah mengalami bullying. Bahkan Menteri Sosial menyebut bahwa hampir 40% kasus bunuh diri di Indonesia disebabkan oleh perundungan.
Ini bukan angka abstrak. Ini adalah anak-anak yang sedang bersekolah, sekarang, hari ini.
Di tengah tren yang mengkhawatirkan ini, kita menyaksikan tumbuhnya sebuah fenomena yang menarik sekaligus perlu direnungkan: munculnya sekolah-sekolah Islam elit di berbagai kota besar dan menengah Indonesia.
Sekolah-sekolah ini hadir dengan tawaran yang lengkap — kurikulum terpadu agama dan sains, fasilitas modern, lingkungan yang aman dan kondusif, serta guru-guru terlatih. Banyak orang tua Muslim kelas menengah ke atas memilihnya dengan penuh keyakinan bahwa melalui sekolah-sekolah tersebut anak mereka akan menjadi cerdas sekaligus berakhlak
Dan niat itu tidak salah. Tapi ada sesuatu yang perlu kita tanyakan lebih dalam.
Ketika mayoritas siswa di sekolah-sekolah ini berasal dari keluarga yang secara ekonomi berada di lapisan atas, ketika fasilitas yang mereka nikmati setiap hari jauh melampaui rata-rata, ketika lingkungan pergaulan mereka nyaris homogen secara kelas sosial — apa yang sebenarnya sedang kita bentuk? Apakah kita sedang mendidik generasi Muslim yang saleh dan peduli? Atau tanpa sadar sedang membesarkan pemain monopoli yang terbiasa dengan dua dadu sejak awal, dan kelak akan sulit memahami mengapa orang lain tidak bisa menang secepat mereka?
Ironinya terasa cukup tajam. Sekolah-sekolah ini mengajarkan zakat, infak, kepedulian pada dhuafa, dan pentingnya berpihak pada yang lemah — semua itu ada di silabus, tertulis rapi di buku pelajaran agama. Tapi pengetahuan tentang kemiskinan tidak otomatis melahirkan empati terhadap kemiskinan.
Piff menunjukkan hal yang sama: orang bisa tahu bahwa ada ketimpangan, tapi selama ia tidak merasakannya, perilakunya tidak benar-benar berubah. Yang mengubah perilaku bukan informasi — tapi kedekatan dengan realita. Seorang anak yang setiap hari diantar mobil ke sekolah ber-AC, makan siang di kantin yang bersih, dan pulang ke rumah dengan wifi kencang atau tinggal di asrama yang super mewah (untuk konteks sekolah berasrama/ boarding school) — ia mungkin bisa mengerjakan soal ujian tentang empati dengan nilai sempurna. Tapi apakah ia pernah duduk semeja dengan seseorang yang hidupnya benar-benar berbeda darinya?
Kabar baiknya — dan ini penting — empati bukan sifat yang permanen atau sudah terkunci sejak lahir. Empati bisa dilatih. Dan sekolah adalah tempat yang paling strategis untuk melakukannya. Sebuah studi yang mengevaluasi program Activating Social Empathy (ASE) pada 539 siswa sekolah menengah di Irlandia menemukan bahwa partisipasi dalam program empati secara langsung meningkatkan tingkat empati siswa, yang kemudian berdampak pada meningkatnya perilaku prososial, rasa tanggung jawab sosial, dan kemampuan regulasi emosi.
Ini mengonfirmasi apa yang ditunjukkan Paul Piff: intervensi yang singkat pun bisa menggerakkan empati yang tampaknya sudah mengeras. Bayangkan dampak dari program yang dirancang dengan serius dan berkelanjutan.
Inilah mengapa program yang sengaja memangkas jarak menjadi sangat mendesak untuk sekolah-sekolah Islam elit. Bukan program charity dadakan di hari jadi sekolah. Bukan donasi buku yang difoto untuk media sosial. Yang dibutuhkan adalah pengalaman yang benar-benar menempatkan siswa di tengah realita yang berbeda dari keseharian mereka.
Program live-in di desa atau komunitas marginal, misalnya, bukan soal wisata kemiskinan. Ini soal meminjam kehidupan orang lain untuk beberapa hari — tidur di rumah sederhana, makan seadanya, ikut bekerja, mendengar cerita langsung dari orang-orang yang hidupnya tidak dimudahkan oleh sistem seperti yang mereka nikmati. Ketika seorang siswa pulang setelah tiga hari tinggal bersama keluarga petani, ia tidak hanya membawa foto. Ia membawa pertanyaan yang tidak bisa dijawab di kelas mana pun: mengapa hidupku dan hidup mereka bisa sejauh ini berbeda?

Di luar live-in, ada banyak bentuk lain yang bisa dirancang secara konsisten — magang sosial di komunitas disabilitas, proyek kolaborasi lintas kelas sosial, atau program makan siang bersama warga sekitar sekolah secara rutin. Bukan sebagai acara seremonial, tapi sebagai bagian dari kurikulum pembentukan karakter yang sungguh-sungguh.
Tulisan ini bukan ajakan untuk merasa bersalah memilih sekolah yang baik bagi anak. Setiap orang tua berhak menginginkan yang terbaik, dan fasilitas yang layak adalah hak, bukan dosa.
Tapi seperti yang ditunjukkan Piff, kenyamanan punya cara halus untuk membuat seseorang lupa. Lupa bahwa tidak semua orang bermain dengan dadu yang sama. Lupa bahwa banyak keberhasilan yang kita anggap hasil kerja keras pribadi sebenarnya ditopang oleh sistem, lingkungan, dan keberuntungan yang tidak pernah kita minta.
Sekolah Islam yang benar-benar mendidik bukan hanya yang menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi dan hafalan Quran yang kuat. Tapi yang menghasilkan manusia yang sadar posisinya — dan memilih menggunakan privilegenya untuk menjadi jembatan, bukan tembok.
Karena pada akhirnya, empati bukan sesuatu yang otomatis tumbuh seiring naiknya posisi seseorang. Empati perlu dirawat secara sengaja. Dan sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk mulai merawatnya — sebelum jarak itu terlalu lebar untuk dijembatani.
Referensi :
- Paul Piff, TED Talk “Does Money Make You Mean?” (2013) link di sini;
- Konrath, S.H., O’Brien, E.H., & Hsing, C. (2011). Changes in Dispositional Empathy in American College Students Over Time: A Meta-Analysis. Personality and Social Psychology Review;
- Deng, X., Yang, J., & Wu, Y. (2021). Adolescent Empathy Influences Bystander Defending in School Bullying. Frontiers in Psychology;
- Data KPAI & JPPI 2022–2024.
Tulisan lainnya tentang pentingnya empati bisa diakses di sini