Kota Batu selalu punya wajah yang menawan. Udaranya sejuk, perkebunan membentang luas, dan di akhir pekan jalanan ramai oleh wisatawan. Namun, bagi Adit dan Fanji, siswa SMA Giripurno Jaya, ada satu hal yang justru membuat wajah mereka muram, mendung, dan gelap: pelajaran bahasa Jawa.
“Bu, kenapa sih masih ada pelajaran bahasa Jawa? Aksaranya ribet, nulisnya bikin tangan pegel,” keluh Adit di kelas.
“Benar, Bu,” timpal Panji. “Kalau di HP kan nggak ada aksara Jawa. Ngapain dipelajari?”
Teman-teman lain tergelak. Di papan tulis, huruf-huruf hanacaraka berjajar seperti barisan cacing kecil yang berbelit-belit. Bu Yuli, guru bahasa Jawa, hanya tersenyum sabar.
“Ya tidak apa-apa, kamu itu manusia merdeka?” katanya pelan. “Maksudnya bu?” Adit penasaran, matanya melotot hampir keluar. “Ya … kamu sudah SMA, sudah bisa menentukan mana yang baik untukmu
dan mana yang tidak. Tugas Ibu, hanya menjalankan amanah sebagai guru bahasa Jawa.”
Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Adit dan Panji. Mereka malah sibuk memainkan gawai mereka di bawah meja secara sembunyi-sembunyi, sambil sesekali ngedumel. Bagi mereka, pelajaran bahasa Jawa hanyalah beban tambahan di antara matematika, IPA, dan tentunya tes potensi akademik alias TPA yang sebentar lagi mereka hadapi.
TPA adalah gerbang penting. Seperti sebelum-sebelumnya, pergantian kekuasaan di pemerintahan maka berganti pula kebijakannya, pun juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada era menteri sebelumnya, studi lanjut ditentukan hanya melalui nilai rapor saja, saat ini selain nilai rapor nilai tes potensi akademik juga berpengaruh. Nilai TPA ini akan menentukan sekolah lanjutan mana yang bisa mereka masuki. Pak Wibowo, ayah Adit, sering mengingatkan kalau dulu dulu dia cuma lulus SMK. Ia berpesan kepada anak kesayangannya Adit agar bisa melanjutkan pendidikan hingga level perguruan
tinggi. Ia juga sering menekankan kepada Adit untuk senantiasa bekerja keras dan belajar sungguh-sungguh.
Jauh panggang dari api, semakin Adit mencoba untuk belajar, maka semakin tinggi pula kekhawatiranyya terkait kemampuan dia dalam mengerjakan soal-soal TPA. Soal-soal latihan terasa makin susah, harapanpun semakin hari semakin menurun, dan semangat belajar mulai hilang. Malam-malamnya kini penuh dengan helaan napas panjang, buku-buku terbuka di meja tanpa benar-benar disentuh. Adit menatap angka-angka yang menari di kertas, tapi otaknya seperti membeku, tak mau bekerja sama. Sesekali ia memukul pelan kepalanya sendiri, berharap logikanya bisa lebih cepat tanggap.
“Padahal aku sudah abaikan pelajaran gak penting seperti bahasa Jawa agar bisa lebih fokus ke TPA?” gumam Adit dengan suara bergetar. Adit melihat Panji di sebelahnya sedang asyik memainkan gawai. Ini membuat kepalanya semakin panas, seolah apa yang ia ceritakan tak mendapat perhatian dari teman baiknya itu.
“Kamu kok bisa setenang itu sih Nji? Heran aku!” Adit menatap serius Panji. “Eitsss … tenang Dit, ada bestiemu di sini. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian! Ini aku sedang cari inspirasi.” Panji mencoba meyakinkan Adit, meskipun tampak tak meyakinkan.
“Inspirasi apaan, orang kamu asik main Mobile Legend1!” Adit tidak percaya. “Sebagai seorang sahabat, sehartusnya kamu merasakan kekhawatiran apa yang aku rasakan” Adit mencoba berkeluh kesah, hamper putus asa. “Tenang Bro, gim ini mengajarkan kita bahwa keajaiban itu pasti ada.” Kali ini Panji menatap Adit dengan tajam.
Adit hanya terdiam, matanya seperti senja yang terbakar lelah, merah membara, karena kurang tidur, seakan segala kerja keras yang sudah ia kumpulkan mendadak tampak tak berarti di hadapan soal-soal yang kian mengintimidasi.
Di antara keheningan, rasa takut mulai merambati hati Adit, menekan semangat yang dulu sempat membara. Kini, bayangan kegagalan terasa lebih nyata daripada harapan keberhasilan.
Di tengah keputusasaan yang menghantui Adit, Panji tiba-tiba berbisik, 1Sejenis Gim di HP yang banyak dimainkan anak-anak
“Aha, ini dia Dit, keajaiban itu. Magic Bro. Aku dengar ada orang sakti di lereng Panderman. Namanya Mbah Kerti. Katanya bisa bikin orang jadi pinter dengan cara yang instan.”
Adit menatap serius.
“Serius, Nji?”
“Iya, kemarin katanya pak kades Pandan Rejo dan ssst … tapi jangan bilang bilang kalau ini dari aku ya!” gumam Panji sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Adit.
“Apa sih Nji?” Adit nampak risih “Emang serahasia itu?” tambahnya. “Walikota Baru kita ini juga minta doa restunya ke mbah Kerti, hingga dia bisa jadi walikota ngalahin paslon lainnya di pilkada kemarin!” tambah Panji “Wah yang bener, Nji?” Adit nampak tidak percaya.
“Bener, aku tetanggaan sama tim suksesnya”
Panji mencoba meyakinkan Adit bak politisi mengumbar janji-janji manis kepada pemilihnya sebelum kampanye
“Aku percaya tidak percaya hal-hal yang seperti itu, tapi kalau sudah mentok seperti ini idemu boleh juga dicoba, tapi …” Adit mulai terbujuk oleh rayuan Panji. “Tapi apa lagi Dit?”
“Aku jadi ingat cerita bapakku waktu aku kecil dulu”
“Cerita apa?”
“Baung nji, manusia jadi-jadian penjaga gunung Panderman.”
“Aduh, dit. Itu hanya mitos saja. Manusia berkepala anjing, dan kepalanya terbalik itu toh?”
“Lah itu kamu tahu!”
“Udahlah itu hanya mitos agar orang-orang tidak merusak hutan, apalagi niat kita baik, biar kita bisa lulus TKA. Membanggakan orang tua. Pasti aman!” Panji memang bebal dalam banyak hal, tapi untuk merayu dan meyakinkan orang, ia sudah seperti tukang jual batu merah delima di pasar yang mampu menarik keramaian lalu menyihir mereka dengan atraksi debus, sebelum akhirnya membuat orang-orang yang melihatnya terpikat untuk membeli batu itu.
—
Malam itu, dengan alasan belajar kelompok, mereka diam-diam berangkat. Jalan setapak menuju rumah Mbah Kerti penuh kabut. Pandangan dua anak itu hanya sebatas satu meter. Mereka harus melihat ke bawah agar tak terperosok lumpur bekas hujan. Suara angin menabrak pohon cemara menghasilkan suara
suara desir yang membuat bulu kuduk merinding. Gonggongan anjing penjaga kebun, sesekali mengjutkan mereka berdua.
“Astaga, Dit… itu bukan Baung kan?” bisik Panji sambil merapatkan jaketnya.
“Bukan, Nji. Itu… mungkin cuma anjing warga yang tinggal di sekitar sini. Atau…, Nji kenapa kamu yang takut sih? Katamu itu cuman mitos!” jawab Adit sok tenang, tapi kakinya gemetar.
Tiba-tiba seekor kucing hitam melintas.
“AAAA!!!” Panji menjerit kencang.
“Ssttt, Nji! Itu cuma kucing, bukan leak,” jawab Adit, tapi wajahnya sendiri pucat pasi.
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah bambu tua. Lampu minyak menyala temaram, dan dari dalam terdengar suara batuk berat. Pintu kayu berderit saat mereka ketuk, dan keluarlah sosok lelaki tua berambut putih: Mbah Kerti.
“Assalamualaikum … Assalamualaikum …” Adit dan Panji mencoba mencari tahu apakah ada orang di dalam rumah. Ketika mereka merasa tidak ada jawaban dan mencoba mengintip ke dalam rumah lewat celah yang ada pada pintu, tiba-tiba muncul suara dari belakang mereka
“Apa karepmu teka mriki, cah cilik?” suara Mbah Kerti berat, membuat bulu kuduk mereka meremang.
“Astaghfirullah …” Adit dan Panji kompak terkejut.
“Kami… kami mau minta tolong, Mbah,” ujar Adit terbata.
“Iya mbah, sebentar lagi TPA, Mbah. Kami takut nggak bisa masuk kampus favorit,” sambung Panji, hampir menangis.
Mbah Kerti menatap mereka lama. Tiba-tiba, angin berhembus kencang, membuat pintu berderit dan lampu minyak bergoyang. Kedua anak itu hampir kabur, sampai Mbah Kerti mendadak… tertawa keras.
“Hahaha! Wah, kowe loro iki gampang wedi, jebul arep ujian wae wis nglokro.”
Panji menepuk dadanya. “Astaga, Mbah, kirain tadi mau disantet.” Mbah Kerti masih terkekeh. “Ora, le. Aku ora nyantet. Kowe pingin ujianmu sukses toh. Iku perkoro Gampang.”
Adit dan Panji saling menatap, “Nji, gampang Nji. Masuk UB nih kita Nji habis ini!”
Mbah Kerti masuk ke dalam rumah yang remang, langkahnya pelan namun mantap. Tak lama kemudian, ia kembali sambil membawa secarik kertas kuno yang dilipat rapi. Bau kertas tua bercampur asap kemenyan menyelimuti udara, membuat bulu kuduk Adit dan Panji meremang.
Dengan tatapan penuh wibawa, Mbah Kerti menyerahkan kertas itu. “Yen pancen kowe pingin sukses ujian, iki mantrane. Iki Mantra Sakti. Wacanen nang omah lan nang sekolah tiga kali sehari. Ojo dibuka kertas iki nang dalan. Lek mbok buka nang ndalan kesaktiane ngilang Wes muliho.” Adit dan Panji mengangguk patuh. Entah kenapa, ucapan itu terasa berat, seperti sabda yang tidak bisa ditawar. Mereka pun berpamitan, menunduk penuh hormat.
Di jalan pulang, wajah mereka berbinar.
“Nji, kita pasti berhasil, Nji! Kalau lihat perawakannya aku yakin mbah Kerti itu orangnya kayak wali, udah pasti mantra yang diberikan ke kita ini dahsyat” kata Adit sambil menepuk dada.
“Iya, Dit. Bayangin, orang-orang aja katanya pernah dibantu Mbah Kerti bisa jadi kepala desa sampai wali kota loh?” sahut Panji, setengah meloncat kegirangan. Kertas itu mereka simpan baik-baik bak benda pusaka. Adit bahkan menaruhnya di dalam buku tulis, lalu memasukkan ke tas dengan hati-hati, takut kalau-kalau terlipat tidak rapi. Mereka benar-benar percaya, setelah ini jalan mereka menuju kampus favorit akan terbuka lebar.
Namun begitu tiba di rumah, jantung mereka berdegup cepat. Adit menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu mengeluarkan kertas itu dengan khidmat. Panji ikut duduk, menahan napas.
“Siap, Nji? Ini saatnya rahasia Mantra Sakti Mbah Kerti terungkap,” kata Adit dengan suara penuh wibawa, seakan mau membaca kitab suci.
“Cepetan, Dit! Aku udah deg-degan dari tadi!”
Perlahan, lipatan kertas itu dibuka. Cahaya lampu kamar menyinari tulisan hitam di atas kertas kuno. Namun, bukannya menemukan bocoran soal atau mantra ajaib seperti yang mereka bayangkan, mereka justru melongo.
Tulisan di kertas itu bukan bahasa Indonesia. Bahkan bukan bahasa yang mereka kenali. Huruf-huruf aneh berbaris rapi, melengkung dan berkelok seperti cacing yang sedang menari. Adit mendekatkan kertas itu ke matanya, mengerutkan kening.
“Waduh, Nji… ini kok kayak semut baris ya?”
Panji menatap lebih lama, lalu mendesis, “Semut baris apaan, Dit? Ini mah kayak cacing laper… huruf apa sih ini?”
Mereka saling pandang, lalu hampir bersamaan berseru:
“Jangan-jangan ini… aksara Jawa?!”
Sekejap rasa percaya diri mereka runtuh. Mereka ingin marah, ingin kecewa, tapi bayangan tatapan tajam Mbah Kerti kembali terngiang.
Malam itu, keyakinan yang semula tegak berdiri berubah menjadi gumpalan rasa malu. Untuk pertama kalinya, Adit dan Panji benar-benar menyesal pernah menganggap pelajaran bahasa Jawa tidak penting.
Sejak hari itu, Adit dan Panji berubah. Mereka tidak langsung berani mengaku kepada teman-temannya, apalagi kepada bu Yuli. Rasa malu masih membebani hati. Tapi dalam diam, mereka mulai berusaha.
Di rumah, ketika malam sudah larut dan orang tua mereka mengira mereka sedang tidur, Adit menyalakan lampu meja belajar kecil. Ia membuka kertas berisi mantra sakti itu sambil mencoba mengingat pelajaran yang disampaikan bu Yuli.
“Hanacaraka, datasawala, padhajayanya…” gumamnya pelan, berusaha mengingat satu per satu.
“Kuwalat, sama bu Yuli nih aku!” Tangannya gemetar, tapi hatinya hangat. Di sisi lain, Panji melakukan hal yang kurang lebih sama. Ia bahkan menyalin ulang aksara Jawa di kertas kecil, lalu menyelipkannya di bawah bantal. Kadang kadang ia latihan membaca di depan cermin, membayangkan Bu Yuli tersenyum
bangga kalau tahu ia akhirnya mau belajar, meskipun untuk tujuan yang masih remang-remang.
Beberapa kali, mereka mencoba menerjemahkan aksara Jawa di kertas itu dengan bantuan buku dan aplikasi di HP. Namun hasilnya kacau. Huruf yang seharusnya berbunyi “ta” malah terbaca “ka”, atau yang mestinya “la” justru muncul seperti simbol aneh yang tak masuk akal.
“Aduh, kok susah banget sih,” desis Adit sambil mengusap rambutnya frustasi.
“Ini kenapa terjemahannya malah jadi kayak ‘Kala makan ula’? Maksudnya apa coba?”
Panji menahan tawa sekaligus pusing. “Ya ampun Dit, jangan-jangan kita malah nyiptain bahasa baru.”
Namun sebelum benar-benar menyerah, mereka mencoba jalan lain. Dengan ponsel di tangan, Panji memotret kertas beraksara Jawa itu.
“Mungkin bisa diterjemahin sama Google, Dit,” katanya penuh harap. Tapi hasilnya nihil. Tulisan itu tidak bisa langsung di-copy paste, bahkan aplikasi terjemah otomatis hanya menampilkan simbol-simbol aneh. “Waduh… buntu lagi,” keluh Adit.
Setiap kali hampir putus asa, mereka teringat wajah Mbah Kerti dengan tatapan tajamnya.
Mereka sudah mencoba berbagai cara: menyalin huruf, mencari di HP, bahkan mengira-ngira arti aksara itu dengan logika aneh mereka sendiri. Hasilnya nihil.
Untuk menghilangkan kekesalan mereka, mereka berdua pergi ke alun-alun kota Batu. Satu-satunya alun-alun di Indonesia yang memiliki wahana bianglala. Di bawahnya, mereka duduk dan saling berkeluh kesah.
“Aku nyerah, Nji,” keluh Adit, menjatuhkan tubuhnya di bangku alun-alun. “Kayaknya pesan Mbah Kerti emang rahasia negara, bukan buat kita.” “Ya sudah, Dit,” sahut Panji, “anggap aja kita memang ditakdirkan jadi generasi yang nggak ngerti huruf cacing.”
Adit mencoba berkontemplasi. Ia mencoba memikirkan solusi. Wajahnya menatap ke atas. Tepatnya ke atas bianglala alun-alun Batu yang sudah dua tahun
berhenti beroperasi, menunggu investor untuk memperbaiki. Papan pengumuman bertuliskan “Under Maintenance” tergantung di pintu masuknya. “Sayang banget, Dit. Padahal aku pengin naik bianglala buat ngilangin stres,” kata Panji kecewa.
Adit hanya terdiam menatap kerangka besi bianglala itu. Matanya tiba-tiba berbinar, seolah menemukan sesuatu.
“Nji… aku jadi ingat sesuatu!” serunya tiba-tiba.
“Apaan lagi? Jangan-jangan kamu malah lihat jin nangkring di atas bianglala?”
“Bukan!” Adit tersenyum lebar.
“Dulu waktu bianglala masih jalan, aku pernah naik. Dari atas sana, aku lihat gedung besar di sebelah barat sana, di depan GOR Ganesa, bangunan putih yang relatif baru dibanding bangunan sekelilingnya. Aku baru sadar… itu kan Perpustakaan Kota Batu!”
Panji mengerutkan dahi. “Perpustakaan? Serius, Dit, dari semua tempat di Batu, ilham kamu datangnya ke… perpustakaan?”
Adit mengangguk mantap.
“Ya iyalah. Kita sudah gagal pakai buku sendiri, gagal pakai HP, terus kenapa kita nggak coba cari di perpustakaan? Mungkin jawabannya ada di sana.” Panji menepuk jidat, separuh malas, separuh kagum.
“Ya ampun Dit… biasanya orang naik bianglala kan lihat gunung, lihat lampu kota, lihat pedagang jagung. Kamu malah lihat… perpustakaan?” “Ya mungkin itu takdir, Nji,” jawab Adit sok puitis, “Takdirnya anak yang hampir putus asa tapi masih mau mencari tahu.”
Mereka berdua pun tertawa, meski sebenarnya jantung mereka berdebar juga. Dari bawah bianglala mereka melangkahkan kaki menuju bangunan yang selama ini nyaris tak pernah ada dalam pikiran mereka. Gedung yang seringnya sepi di antara riuhnya alun-alun, tempat di mana perjalanan mereka akan berubah arah: Perpustakaan Kota Batu.
Akhirnya, mereka sepakat pergi ke sana. Udara sejuk bercampur aroma buku tua menyambut langkah mereka. Sunyi, hanya suara kertas dibalik dan gesekan
kursi kayu. Mereka menghampiri seorang pustakawan paruh baya berkacamata, wajahnya penuh ketenangan.
“Pak,” tanya Panji pelan, “kami mau belajar aksara Jawa. Bisa dibantu?” Sang pustakawan menatap mereka sejenak, lalu tersenyum bijak. “Oh, aksara Jawa? Jarang sekali ada anak seusia kalian yang masih penasaran. Bagus. Ayo, saya tunjukkan bukunya.”
Berjam-jam mereka menghabiskan waktu. Membuka buku tata aksara, menyalin huruf demi huruf, membandingkan bentuk, bahkan salah paham berkali kali.
Ketika Adit dan Panji sedang bingung-bingungnya, pustakawan itu mendekat.
“Kalihan kelihatan berusaha sangat keras, bapak boleh bantu?” Dengan sabar pustakawan itu mendampingi dua anak yang karena ingin lulus TKA ini harus menundukkan egonya untuk belajar sesuatu yang ia sempat hina. Sampai akhirnya, setelah susah payah, mereka berhasil membaca mantra sakti dalam kertas pemberian Mbah Kerti.
Dengan napas tercekat, mereka melafalkan:
ꦏꦭꦺꦴꦮꦶꦤꦶꦁꦥꦶꦤꦶꦠꦂ꧈ꦩꦏꦱꦶꦤꦶꦸꦮ
(Kalau Ingin Pintar, Maka Belajar)
—
Dalam perjalanan pulang dari perpustakaan, Panji masih memikirkan sesuatu. Padahal mantra sakti mbah Kerti sudah terpecahkan. Aditpun bertanya pada Panji karena penasaran
“Apa yang kamu pikirkan Nji?”
“Sebentar, sebentar Dit! Aku kok merasa tidak asing dengan wajah pustakawan yang kita temui tadi ya?”
— selesai —
Cerita pendek ini merupakan naskah cerita yang saya ikut sertakan dalam lomba penulisan cerita pendek kota Batu di mana setiap cerita harus mengintegrasikan unsur kearifan lokal kota Batu, dari ratusan naskah terpilih 30 besar untuk diikutsertakan dalam latihan penulisan cerpen, di dalam agenda tersebut saya bertemu tokoh-tokoh yang luar biasa yang tidak hanya mengajarkan saya tentang kepenulisan cerpen / fiksi, tetapi juga budaya-budaya dan sejarah kota Batu.
Sebagai apresiasi terhadap penulis, Dinas Perpustakaan Kota Batu membukukan 30 naskah ini dalam buku antalogi “Kota Dingin Dalam Hangatnya Cerita”. Untuk membaca buku ini kita bisa pergi ke perpustakaan kota Batu baik yang di dekat alun-alun maupun di hutan kota Batu dekat stadion.
