Kerjakan Ulang

“Ustad, I am sorry. Can I revise my work? It’s the page 4 of subtopic 2” kalimat itu sering saya dapati di kelas ketika anak-anak merasa tidak puas dengan umpan balik baik berupa komentar maupun nilai yang mereka dapatkan terkait dengan pengerjaan tugas mereka. Mereka yang biasanya belum mencapai nilai 100 akan maju ke meja saya di depan dan meminta saya untuk mengatur agar mereka bisa mengerjakan ulang tugas yang ingin mereka perbaiki. Sebelum mengerjakan ulang biasanya saya meminta anak-anak untuk mencari letak kesalahannya di mana dan membaca lagi materi dan tugas yang sudah mereka kerjakan di halaman sebelumnya.

Dengan memanfaatkan teknologi, hal ini sangat mungkin bisa diaplikasikan di sekolah. E-learning Sekolahku, misalnya, sudah bisa dirancang agar sistem secara otomatis melakukan koreksi terhadap pengerjaan siswa, sehingga siswa segera mendapatkan umpan balik dan mengetahui bagian-bagian mana dari tugas-tugas yang mereka kerjakan untuk diperbaiki.

Suatu sore, seorang anak mendatangi saya dan menanyakan kenapa sekolah kami melakukan model pembelajaran seperti ini. Jika seperti ini maka semua anak akan mendapatkan nilai bagus karena setiap anak boleh mengerjakan ulang, bahkan uji kompetensi (ujian yang dilakukan apabila satu topik sudah diselesaikan) pun boleh diulang meskipun guru memberikan waktu dua minggu untuk belajar ulang. Sebuah pertanyaan kritis yang keluar dari mulut siswa SMP kelas 7. Dan kalau tidak mendapatkan jawaban yang logis, anak ini kan terus mencecar saya dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Saya mengajak anak tersebut duduk di tangga di dekat ruangan saya. Lalu saya pun menjelaskan kepadanya “Anakku, sekolah khususnya sekolah kita bukanlah tempat ajang lomba atau kompetisi. Sekolah itu tempat para anak-anak berkolaborasi satu sama lainnya.” Kemudian saya membuka laptop dan menunujukkan padanya tentang salah satu teori belajar yang banyak digunakan oleh para pendidik di seluruh dunia yang dikembangkan oleh ahli psikologi asal Rusia Vygotsky. Teori itu dinamainya Zone of Proximal Development (ZPD) di mana ada jarak antara tingkat perkembangan aktual yang ditunjukkan oleh kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dengan tingkat perkembangan potensial yang ditunjukkan melalui pemecahan masalah dengan bimbingan orang dewasa atau teman sebaya. Dalam bahasa yang sederhana potensi optimal anak-anak bisa diraih dengan kolaborasi antara guru, teman sebaya, dan siswa itu sendiri.

Nak, terkait dengan memperbaiki pekerjaan yang salah, hal ini sudah dilakukan juga oleh pendahulu kita baik para ilmuwan maupun praktisi. Lihat saja, orang yang sering kita jadikan contoh, Thomas Alfa Edison misalnya. Untuk menemukan bohlam, ia harus mengalami berkali-kali percobaan gagal dan memperbaikinya.” Saya juga menambahkan kisah yang sering saya angkat yaitu ketika Richard Feynman muda, berhasil memperbaiki sebuah radio yang rusak dengan mengganti satu persatu bagian radionya. Padahal saat itu, ia tidak tahu menahu sama sekali tentang radio. “Hal ini kita kenal sebagai sebuah eksperimen. Melakukan trial and error hingga kita menemukan dan meraih apa yang menjadi tujuan belajar kita.”

Sayapun melanjutkan penjelasan saya yang bercerita tentang pengalaman puasa di masa kecil dulu. “Dulu , ustad memiliki sebuah gim console Nintendo pemberian sepupu ustad. Ketika Indonesia dipimpin oleh presiden Abdurrahman Wahid, ada kebijakan sekolah libur selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Saat liburan itu ustad sering bermain sebuah gim yang sangat familiar yaitu Super Mario Bros. Ustad senang memainkan gim itu. Meskipun hanya dibatasi dua jam saja oleh ibu ustad. Ketika memainkan gim Super Mari Bros, perasaan ustad senang saja, fokus ustad hanya bagaimana bermain sebaik mungkin, sambil berhati-hati agar sang Mario tidak tertabrak oleh kuman atau kura-kura, terjerembab ke dalam lubang, dimakan oleh daun hidup, atau terkena api. Namun, setiap ustad gagal, ustad tahu bahwa ustad bisa mengulanginya, setidak-tidaknyanya dari level terakhir, dan ustad bisa menyusun strategi agar karakter Mario ustad tidak mati di tempat yang sama. Hingga pada akhirnya Mario yang ustad mainkan bisa menyelamatkan sang putri.” Setelah itu saya pun menguatkan penjelasan saya bahwa atmosfir seperti inilah yang ingin saya hadirkan di kelas. Anak-anak tidak perlu takut untuk mencoba dan memperbaiki pengerjaannya karena mereka tidak akan mendapatkan hukuman atas kesalahan yang dilakukan terkait tugas-tugas yang mereka kerjakan.

Kamu tahu Mark Rober, nak?” tanyaku pada sang anak

Oh, Youtuber yang punya belasan juta pengikut itu ya, ustad?” jawabnya

Ya benar, suatu hari ia meminta followernya untuk mengerjakan soal coding yang sederhana. Ia mengatakan kepada pengikutnya bahwa ia ingin menunjukkan bahwa semua orang bisa melakukan coding. Dan sebanyak kurang lebih 50 ribu pengikutnya mengikuti tantangan ini. Namun ada yang tidak disadari oleh pengikutnya, Mark menyiapkan dua umpan balik yang berbeda. Bagi sebagian orang yang mencoba dan gagal, Rober membuat tulisan “That didn’t work, please try again.” dan bagi sebagian lainnya yang juga gagal dalam mencoba ia menuliskan “That didn’t work. You lost 5 points. You now have 195 points. Please try again.” Kamu tahu apa yang ditemukan oleh Mark dalam pengerjaan itu?

“Apa ustad?” Ia semakin serius mendengarkan

“68% orang yang tidak kehilangan poin akhirnya memecahkan teka-teki, namun hanya 52% orang yang kehilangan 5 poin yang mampu memecahkan teka-teki. Ada beda sekitar 16%. Data lain yang dikumpulkan Mark adalah tentang berapa banyak percobaan yang dilakukan para pemain sebelum mereka menyerah. Kelompok yang tidak kehilangan poin rata-rata sekitar 12 percobaan, sementara orang yang kehilangan 5 poin rata-rata sekitar 5 percobaan.” aku mencoba menjelaskan padanya.

“benarkah?” tanyanya kritis.

“Nak, dari percobaan yang dilakukan Mark ini, ustad belajar bahwa dalam belajar itu boleh melakukan kesalahan dan memperbaikinya. Tidak ada hukuman atau penalti dalam belajar ini. Tidak harus, temanmu yang mengerjakan ulang modul mereka itu mendapatkan nilai sebatas nilai KKM. Kamu juga tahu sendiri beberapa kali dari ustad jika target belajar kita itu bukan sebatas KKM. Dan satu lagi nak, tidak ada anak pintar dan anak bodoh di sekolah ini. Tetapi yang ustad lihat adalah anak yang mau berusaha atau tidak berusaha.”

“Oh begitu ya ustad?” tanya anak itu.

“Apakah kamu sudah paham?” tanyaku.

“Tapi ustad …..”

RIIIIINGGGGGGG tiba-tiba alarm di ponsel berbunyi dan membangunkan saya dari tempat tidur. Saya pun segera mengambil wudhu untuk kemudian bersiap sahur. Dialog saya dengan salah satu siswa itupun berhenti begitu saja.

Pagi ini saat tadarus, tak sengaja saya sampai pada satu ayat “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ {4} : 110).

2 Ramadhan 1443H … Selamat menikmati bulan yang penuh ampunan …

Referensi:

  1. ZPD – https://www.simplypsychology.org/Zone-of-Proximal-Development.html
  2. Super Mario Effect – https://medium.com/mind-cafe/the-super-mario-effect-a-psychological-trick-to-help-achieve-success-painlessly-7e25b7583ed3
  3. Richard Feynman – Surely You’re Joking Mr. Feynman”

2 pemikiran pada “Kerjakan Ulang

  1. Ping balik: Ella dan Siri | Coretan Thalut

  2. Ping balik: The Learning Game | Coretan Thalut

Tinggalkan komentar