
Jam tanganku menunjukkan angka 4.30. Di luar jendela rumah langit masih nampak gelap. Tak seperti di Indonesia, suara adzan atau puji-pujian dari pengeras suara masjid tak terdengar. Seekor tupai aku lihat berlari di tembok pembatas rumah, menuju ke ranting pohon Ek yang tumbuh tinggi di depan rumah. Ini subuh pertamaku di negeri yang tak pernah sebelumnya ada di dalam pikiranku akan aku tinggali untuk jangka waktu yang cukup lama.
Aku membuka Google Map di handphoneku. Mencari lokasi masjid terdekat. Jaraknya tidak terlalu jauh. Google mengarahkan ke Manchester Central mosque.
Aku mengambil sarung dari tas koper besarku. Semua bajuku masih tertata rapi di dalam sana. Karena memang rumah ini adalah rumah singgah sementara. Kami datang terlalu cepat. Akhirnya kami harus meminjam kamar di rumah teman yang belum datang, tapi kontrak sewa rumah sudah dimulai terlebih dahulu. Semua Allah yang atur.
Setelah berwudu dan mengenakan sarung, aku pamit keluar. Pintu dikunci dari dalam oleh Nurul Esti Hidayati. Udara luar sangat dingin. Sarung sepertinya bukan pakaian yang pas untuk kota ini. Tapi udara itu tak menyusutkan niatku, untuk merasakan shalat subuh pertama di masjid di kota Manchester.
Setelah menyusuri Dickenson road dan berbelok ke arah Upper Park Road, lokasi masjid bisa dengan mudah saya temukan dengan bantuan Google. Letaknya tak jauh dari kantor konsulat jendral China.
Sudah hampir jam 5, tapi masjid masih ditutup. Aku pikir aku sudah telat berjamaah. Ketika hendak pulang seorang tua keluar dari dalam masjid, kemudian memanggilku, “brother wait”. Beliau mengenakan baju jubah, dilapisi rompi. Ini adalah baju khas Asia Tengah, antara India, Pakistan, Bangladesh, atau Afghanistan.
“Did I miss Subuh prayer?” tanyaku. Orang itu kebingungan. “Subbbbhh Prayer?” sepertinya dia berusaha mengkonfirmasi pertanyaanku. “Dawn, dawn prayer?” aku mencoba menjelaskan. “MashaAllah, no, we will start in 15 minutes. Come in.” Beliau kemudian menunjukkan tempat wudu dan tempat shalat Subuh.
Ruangan jamaah masjid ada dua, satu aula besar dan satu ruangan yang lebih kecil lagi. Kami waktu itu shalat di ruangan yang lebih kecil tersebut.
Selepas adzan dan shalat sunnah, saya mengamati jadwal shalat di ruangan tersebut. Ashr, Duhr, Maghrib, Isha, semuanya saya temukan kecuali Subuh. Dan saya baru tahu kenapa bapak tadi kebingungan ketika saya bertanya tentang subuh, karena beliau lebih mengenal istilah Fajr. Sepengetahuan saya, di Indonesia Fajr memiliki istilah tersendiri. Ada istilah shalat fajr yang pahalanya adalah bumi beserta isinya.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, iqomahpun dikumandangkan. Ini juga yang membuat saya terkejut. Setiap lafal dikumandangkan sebanyak dua kali. Sama seperti ketika adzan. Dalam hati saya “Oh … begini tata cara iqomah di Inggris.”
Sang imam berbaju sama seperti orang tua yang membukakan pintu masjid tadi. Dan setelah melirik ke kanan dan kiri, nampak sekali pakaian mereka sama semua. Berwarna putih, baik baju dan celananya. Beberapa mengenakan rompi. Dan saya satu-satunya yang mengenakan kaos sweater berwarna kuning, plus sarung cap Gajah Duduk warna hitam. Bagiku tak apa, ini hanya masalah kultur saja, yang penting aurat tertutupi dan pakaian bebas dari najis. Sebelum beberapa menit kemudian musibah yang lebih besar terjadi.
Sang imam membaca Al Fatihah dengan suara yang cukup merdu. Pitch controlnya pas. Nadanya tidak terlalu tinggi pun tidak terlalu rendah. Cuman lagunya nampak asing bagi telinga orang Indonesia seperti saya. Hingga pada bagian akhir surat Al Fatihah, “walad dhoolliin…” dengan kencangnya aku menjawab “Aamiin”. Dan saya menyadari saya adalah satu-satunya jamaah yang menjawab Aamiin.
Momen sholat subuh pertama di negeri Ratu Elisabeth adalah momen yang sulit untuk dilupakan. Sebakda shalat subuh seorang pria mendekatiku dan bertanya “Are you from Malaysia?” aku menjawab “No, Indonesia.” kemudian aku menambahkan “Sorry for disturbing you when I said Aamiin with a very loud voice, this is my first day here, I don’t understand the culture.” Dengan bijak ia menjawab “No worry brother, come back here when you wanna pray.”
Tak terlalu menonjolkan masalah khilafiyah adalah salah satu modal untuk mempererat ukhuwah.
Such an interesting and unforgotable experience you’ve ever had I think… We’ll wait for another one. Expecially about the culture shock experience.. It’ll be entertain us beside motivate us to go abroad like what you did. Hopefully, your experiences would be such an inspiration for my students to motivate them to be success people in the future. Amen
SukaDisukai oleh 1 orang
Thanks Indar, some of my journeys are published @ kakikakikita.wordpress.com
SukaSuka
lucu banget kisahnya …. lucu plus inspiring …
semoga selalu sukses kawan dan semoga Allah selalu merahmati dan memberikan petunjuknya
SukaSuka
amiin
SukaSuka
Jadi pengen ngrasain kayak gitu juga kanda
SukaSuka
semoga suatu hari nanti
SukaSuka