INTUISI

Jam tangan saya menunjukkan pukul 8 malam. 15 menit lagi bus kami akan tiba. Bus tersebut akan membawa kami dari kota Lund menunju Malmo. Kedua kota tersebut berada di wilayah Skandinavia asal legenda sepak bola Zlatan Ibrahimovic, Swedia.

Promo tiket bus murah dari Jerman telah membawa kami hingga bepergian di negara yang berada di ujung utara bumi ini, kami pun sebelumnya tak pernah membayangkan bisa menjejakkan kaki di negeri yang sangat dingin ini.

Jam 8.15, bus berwarna hijau itu datang. Kami naik. Malmo tidak berjarak begitu jauh dari Lund. Hanya sekitar 30 menit. Dari Malmo kami akan berpindah moda ke kereta untuk menuju bandara Kopenhagen. Dari sama kami akan naik pesawat kembali ke Manchester. Pesawat yang juga murah, sekitar 15 poundsterling untuk dua tiket atau sekitar 260 ribu rupiah untuk berdua.

Setelah 30 menit di atas Flixbus, kami turun di Malmo central yang selain terminal bus juga terdapat stasiun kereta api terintegrasi. Kami naik kereta jam 11 malam. Rencananya kereta akan tiba di bandara pukul 11.30 dan kami akan beristirahat di sana. Bermalam di bandara, di bis, dan di kereta sangat menghemat biaya. Penerbangan kami pukul 6 pagi keesokan harinya. Jadi jam 4 pagi kami harus sudah check in.

Jam 11.00 kereta yang kami tunggu tiba. Kereta berada di peron 9. Peron berada di lantai bawah tanah stasiun. Kami masuk ke kereta dan kemudian duduk tidak jauh dari pintu. Saya melihat beberapa petugas mondar-mandir di dalam gerbong. Petugas berseragam hitam.

11.05 kereta meninggalkan statiun Malmo, pemberhentian pertama setelah itu adalah TriangIn. Suara notifikasi pemberhentian kereta menggunakan dua bahasa, entah bahasa Swedia atau Denmark (saya tidak tahu) dan bahasa Inggris. Setelah berhenti sebentar di TriangeIn, kereta melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya Hyllie. Di Hyllie kereta berhenti cukup lama. 10 menit berlalu kereta tak kunjung jalan. Terdengar pengumuman, sepertinya dari pemimpin perjalanan. Menggunakan bahasa yang tidak kami mengerti. Setelah suara pengumuman tersebut menghilang, pintu kereta kembali terbuka. Beberapa petugas keluar. Saya mencoba bertanya pada mereka, menggunakan bahasa Inggris, berharap mereka mengerti.

Oresund Bridge Panjangnya sekitar 19 KM

Masalah muncul, kereta tidak melanjutkan perjalanan ke Kopenhagen. Ada masalah kelistrikan di Oresund Bridge. Ini adalah jembatan yang sangat panjang, sekitar 13 kilometer, termasuk pulau buatan di tengah-tengah jembatan tersebut dan jalur bawah laut di sisi Denmark. Keringat dingin mulai muncul, meskipun suhu udara waktu itu sekitar 2 derajat dan ini adalah kereta terakhir. Petugas yang kami ajak bicara menyarankan kepada kami untuk naik taksi. Biayanya sekitar 700 Krona Swedia, atau sekitar 1 juta rupiah. Bagi orang-orang biasa seperti kami,1 jut untuk naik taksi itu sangat mahal. Ide bodoh sempat terpikirkan untuk jalan kaki saja menyeberangi jembatan Orisund dan melewati batas negara. Tapi itu tidak jadi kami lakukan, setelah melihat Google Map, jarak dari stasiun ke bandara adalah 25 kilometer.

Terdengar pengumuman dari stasiun, kereta yang kami tumpangi barusan akan kembali ke Malmo Central. Saya mendekati petugas. Insting saya mengatakan harus kembali ke Malmo Central. Padahal jika naik taksi dari sana, biayanya pastilah jauh lebih mahal. Saya meminta izin petugas, untuk ikut kereta kembali ke Malmo Central dengan tiket berangkat tadi. Petugas itu meskipun nampak menyeramkan tapi mengijinkan kami kembali masuk ke dalam kereta.

Di Malmo central, jam menunjukkan pukul 12 malam. Toko-toko mulai tutup. Kami melihat papan keberangkatan kereta, semua kereta menuju Kophagen dibatalkan. Hingga pukul 2 dini hari, pengumuman di papan itu masih sama “avbokad” dalam bahasa Inggris berarti cancelled.

Suasana di Malmo di tengah malam

Jam 3 dini hari, stasiun tiba-tiba ramai pengunjung. Padahal sebelumnya hanya tinggal kami dan beberapa security. Orang-orang ini ternyata juga hendak menuju bandara untuk mengejar penerbangan pagi. Beberapa dari mereka nampak beradu argumen dengan petugas menggunakan bahasa lokal. Saya mencoba mendekat, dan bertanya ke salah seorang di kerumunan. Jawaban orang itu seperti penghangat di pagi yang teramat dingin itu, “Kita akan pergi ke bandara dengan bus yang disediakan perusahaan kereta.” Salah seorang petugas mengatakan “Jangan salah, halte busnya bukan yang di dalam stasiun, tapi yang di seberang jembatan.”

Nurul Dengan Kreseknya

Kami bergegas menuju ke sana. Nurul Esti Hidayati masih memegang erat tas plastik berisi kebab. Kebab dari Lund yang belum sempat kami makan.

Keputusan yang saya buat di Hyllie adalah keputusan berdasarkan intuisi. Beberapa orang menyebut intuisi sebagai indra ke enam. Malcolm Gladwell menyebut ini dalam bukunya sebagai Blink. Di sana beliau menekankan bahwa “Experience played a big part in having good judgment making quick decisions.” Ya memang benar juga kata beliau, saya seringkali bepergian dengan uang pas-pasan sih, makanya intuisi saya waktu itu cukup pas. Sekali lagi, untuk mendapat intuisi yang baik dibutuhkan PENGALAMAN yang panjang.

Di dalam bus, di tengah jembatan Oresund, kabut menutupi jalan di depan kami. Saya melirik ke arah Nurul, “Saya tidak bisa membayangkan seandainya kita tadi jadi berjalan, kalau tidak dicurigai kemudian ditangkap tentara penjaga perbatasan, kita pasti sudah mati kedinginan di tengah jembatan ini.”

Satu pemikiran pada “INTUISI

Tinggalkan komentar