Dalam tubuh manusia normal, ada sebuah mekanisme di mana tubuh menjaga kondisinya agar tetap dalam keadaan seimbang. Semua organ dalam tubuh manusia akan bekerjasama untuk mencapai kondisi ini yang dikomandoi oleh otak dan hormon. Contoh yang paling sederhana adalah, dalam cuaca yang terik dan suhu yang panas, otak akan mengirimkan sinyal kepada tubuh manusia agar mengeluarkan cairan keringat agar suhu tubuh tetap terjaga. Konsekuensinya, cairain dalam tubuh berkurang sehingga otak kembali merespon dengan memberikan rasa haus. Kemudian setelah minum, tubuh akan kembali pada kondisi seimbang. Sama juga ketika kita berada di daerah atau ruangan dingin, tubuh akan mencoba untuk menjaga kehangatan dengan cara menyempitkan pembuluh darah dan mengurangi aliran darah ke kulit. Tekanan darah manusia akan meningkat saat kedinginan. Akibatnya, tubuh pun mengirimkan sinyal bagi ginjal untuk membuang kelebihan cairan dalam tubuh. Itulah mengapa volume air seni akan meningkat dan ginjal akan bekerja lebih keras untuk mengeluarkan air seni dari tubuh. Mekanisme seperti ini terjadi agar keadaan homeostasis terpenuhi.
Kondisi homeostasis kita bisa berubah, atau setidaknya otak salah menangkap kondisi tersebut. Obesistas merupakan bukti nyata bahwa homeostatis itu bisa berubah disebabkan karena kebiasaan. Sebenarnya, ketika sehabis makan, otak mengirimkan sinyal berupa rasa kenyang. Akan tetapi bagian otak yang lain, melepaskan dopamin saat kita makan. Dopamin ini terkait dengan rasa senang, enak, dan bahagia. Sayangnya dopamin kadang membuat kita ketagihan. Termasuk makanan. Ketika kita gagal mengkontrol akibat dari dopamin ini karena makanan yang enak (jika saya bakso), maka kita akan makan banyak sehingga nutrisi yang didapat oleh tubuh menjadi berlebihan, ditambah lagi rasa malas untuk berolahraga. Semakin sering berlebihan, maka otak menangkap bahwa ini menjadi keadaan homeostasis tubuh kita. Sehingga rasa lapar sering muncul pada penderita obesitas.
Beberapa waktu yang lalu saya ke dokter. Salah satu penyebab utama saya seringkali merasakan backpain adalah karena berat badan saya yang sudah dalam level mengkhawatirkan menurut Body Mass Index (BMI) Calculator. Dengan kata lain, saya obesitas. Kondisi ini merupakan keadaan homeostatis saya. Agar bisa kembali ke bentuk badan yang dulu, saya harus merubah kebiasaan makan saya, dan rajin berolahraga. Sudah banyak yang membuktikan, dan berhasil.
Sejauh ini, untuk merubah kebiasaan itu sangat sulit, bahkan cenderung membuat saya merasa tersiksa. Jika dulu saya bisa makan bakso setiap hari, ditambah lontong dan nasi, sekarang saya harus meninggalkan kebiasaan itu. Makan nasi hanya di siang hari. Tentu saja otak masih menganggap ini bukan kondisi homeostatis saya, sehingga ia melepaskan hormon rasa lapar. Dan saya harus bisa menahan itu. Sekuat-kuatnya. Meskipun terkadang masih cheating juga. Tapi target saya bulan ini, benar-benar menghentikan aktifitas makan malam saya.
Selain itu, saya menargetkan olahraga lari minimal 2 kilometer. Awal-awalnya kaki terasa sakit, otot-otot seperti ditarik. Engkel terasa linu. Bagian betis terasa “njarem” kata orang jawa. Jantung berdenyut kencang. Napas terengah-engah. Tapi ketika sudah dua bulan mencoba dan memaksa untuk rutin 2 kilometer, akhirnya jarak tersebut terasa biasa. Sepertinya otak dan otot-otot saya sudah mengenali bahwa 2 kilometer adalah sebuah kondisi homeostatis. Bulan ini, target saya naikkan ke angka 3 kilometer.

Jika bagian tubuh kita bisa latih untuk melewati kondisi homeostasis, maka saya juga meyakini bahwa otak manusia juga bisa mengalami hal serupa. Uniknya, ada penelitian yang mencoba mencari tahu perubahan otak. Dan itu dilakukan kepada supir taksi di kota London. Iya benar. Sekedar informasi, untuk menjadi sopir taksi di kota itu bukan merupakan hal yang mudah. Setidaknya, untuk mendapat lisensi sebagai sopir taksi London, seseorang harus minimal hafal nama jalan yang jumlahnya hampir 25000 itu, bangunan-bangunan penting, dan berbagai landmarks yang ada di sana. Meskipun sekarang sudah ada teknologi GPS, tapi persyaratan tersebut masih diberlakukan. Bagi yang pernah ke London, mungkin akan tahu betapa ruwet dan macetnya jalan di sana, meskipun tidak separah Jakarta. Beberapa jalan juga merupakan satu jalur dan beberapa lainnya jalan berbayar. Oleh karenanya, sebelum mereka mengambil lisensi sebagai supir taksi, mereka berlatih terlebih dahulu, mencatat satu persatu, melewati jalan-jalan yang ada di ibu kota Inggris itu. Di tahun 2000, beberapa orang saintis di bidang neurologi University College London mencoba meneliti tentang otak beberapa supir taksi di London. Dan hasilnya para supir taksi itu memiliki hippocampus yang lebih besar daripada subjek penelitian yang lainnya. Hippocampus ini berfungsi untuk mengatur sistem navigasi. Penelitian serupa sudah banyak dilakukan dengan subjek yang berbeda seperti ahli matematika, bahasa, dan musisi. Bahkan di tahun 2015, sebuah hasil penelitian mengungkap bahwa mempelajari skill yang baru mampu memicu perubahan struktur dalam otak daripada mengulang-ulang skill yang sudah dikuasai/ yang sama. Tapi memaksa otak berpikir keras, bisa membuat kita menjadi stress bahkan sampai burn out. Sama seperti memaksa lari terlalu jauh di awal-awal bisa membuat kaki kita cedera. Oleh karena itu, tahapan-tahapan dalam mempelajari sesuatu haruslah landai, tidak melompat terlalu jauh. Tahapan berfikir ini sudah saya sampaikan di tulisan saya berjudul Mastery.
Dan dengan alasan yang sama saya meyakini bahwa “Mastery Learning” adalah sesuatu yang mungkin dan bisa dikerjakan. Asalkan siswa mempelajari suatu kompetensi dengan struktur pembelajaran yang tepat serta seperti apa yang dikatakan Ericsson dan Pool dalam bukunya yang berjudul PEAK yaitu membutuhkan guru yang tepat pula. Kemampuan kita, termasuk anak-anak mungkin saja terbatas, tapi belum pernah ada yang bisa membuktikan sampai mana batas itu. Tahukah kita bahwa rekor push up terbanyak adalah sebanyak 10507 dilakukan secara nonstop oleh pria dari Jepang? Atau pria asal China yang mampu menghafal 67890 digit pi?
Homeostasis tak lain dan tak bukan adalah zona nyaman kita. Boleh jadi posisi kita sekrang berada di level cukup baik. Tapi melihat fenomena di atas kita memiliki opsi untuk melakukan hal yang lebih baik. Maka guru yang baik adalah guru yang senantiasa keluar dari zona nyamannya. Bagi mereka “cukup baik” saja tidak cukup. Mereka akan membuat target-target baru dalam pendidikan dan pembelajaran. Untuk itu mereka harus belajar, dan untuk belajar mereka harus banyak membaca serta melatih skill mereka dalam mengajar. Tentunya hal ini tidak mudah, karena sudah banyak dari kita yang terjebak dalam kondisi “homeostasis” yang tidak seharusnya. Sama seperti saya mengawali program menurunkan berat badan saya, terasa sulit dan menyiksa tapi harus tetap saya jalani. Untuk kebaikan dan perbaikan, minimal untuk diri kita sendiri. Dan ingtalah nasihat indah dari Rasulullah ini “orang yang bangkrut adalah mereka yang lebih buruk dari yang kemarin, sementara rugilah mereka yang sama dengan hari kemarin, dan sungguh beruntung mereka yang lebih baik dari hari kemarin”.
Referensi
- https://www.livescience.com/65938-homeostasis.html
- The Knowledge, London’s Legendary Taxi-Driver Test, Puts Up a Fight in the Age of GPS https://www.nytimes.com/2014/11/10/t-magazine/london-taxi-test-knowledge.html?_r=1
- London taxi drivers and bus drivers: a structural MRI and neuropsychological analysis. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17024677
- Cerebellar volume of musicians. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12902393
- Increased Gray Matter Density in the Parietal Cortex of Mathematicians: A Voxel-Based Morphometry Study http://www.ajnr.org/content/28/10/1859
- Experience-dependent structural plasticity in the adult human brain. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21906988
- Changes in gray matter induced by learning–revisited. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18648501
Mantap bro, bermanfaat banget buat kita semua agar selalu belajar hingga ajal menjemput …
SukaSuka
Terimakasih ustad …
SukaSuka