Tahun 2005, saya duduk di sebuah bangku di salah satu kelas di SMAN 1 Glagah. Pukul 07.15 lembar soal Fisika sudah dibagikan oleh pengawas ujian lengkap beserta lembar jawabannya. Lima belas menit kemudian saya dan teman-teman saya kelas 2.6 kala itu dipersilahkan mengerjakan. Ada 45 soal yang harus kami selesaikan. 40 soal pilihan ganda dan 5 soal isian. Waktu yang diberikan adalah 2 jam. Kami pun mulai mengerjakan. Wajah – wajah “serius” pun mulai bermunculan. Beberapa melirik ke kanan dan ke kiri. Saya sendiri termasuk orang yang tidak percaya dengan jawaban teman. Maka jika saya tidak bisa mengerjakan, lebih baik saya karang sesuai dengan keyakinan yang saya miliki.
Waktu menunjukkan pukul 09.15, 15 menit lagi kami semua harus berhenti mengerjakan. Sayapun mulai menghitung berapa soal yang saya kerjakan. Kemudian mengkalkulasi berapa nilai yang akan saya dapatkan jika saya mulai mengerjakan fisika dengan pendekatan Bahasa Indonesia, “Mengarang Indah”. Hasilnya saya akan mendapatkan nilai di atas 75. Pukul 9.30 tepat pengawas meminta kami berhenti mengerjakan dan meminta kami segera meninggalkan ruangan.
Sekitar seminggu setelah itu nilai hasil ujian muncul. Hasilnya di luar dugaan. 53. Iya Lima Puluh Tiga. Ditambah rasa kecewa dan tidak percaya.
Sebelas tahun setelah kejadian tersebut, saya sedang menulis sebuah proposal penelitian. Proses penulisan ini membawa saya ke sebuah artikel hasil penelitian. Ialah psikolog dari Cornell University, Justin Kruger dan David Dunning pada tahun 1999 menemukan adanya bias kognitif pada pikiran manusia tentang kecenderungan menilai kompetensi atau skill yang mereka miliki melebihi realitas yang ada. Dari 4 studi yang dilakukan, mereka menemukan bahwa para partisipan yang memberikan nilai dari ujian grammar, humor, dan kemampuan berpikir logis pada seperempat kelompok terbawah melebih-lebihkan kinerja dan kemampuan mereka. Walaupun nilai mereka berada pada 12 persen terbawah, mereka menilai diri mereka pada kelompok 62 persen tertinggi. Masalahnya adalah mereka yang terjangkit bias ini tidak sadar bahwa pikiran mereka bias (bermasalah). Dampaknya mereka merasa lebih superior daripada orang lain dan biasanya salah dalam mengambil pertimbangan dan keputusan.

Jika kita konversikan ke fenomena yang lain, kita bisa lihat dari sebuah kelompok sosial yang kita kenal dengan Orang Kaya Baru (OKB). Mereka biasanya ingin sekali menunjukkan superioritasnya agar diakui sebagai orang kaya dengan memamerkan barang-barang yang mereka miliki. Berbeda dengan orang-orang yang memang sangat kaya seperti pemilik Facebook, Mark Zuckenberg atau Simon Cowell pemiliki royaliti ajang pencarian bakat terbesar di seluruh dunia yang lebih sering menggunakan kaos oblong Primark daripada barang-barang branded. Merekapun lebih banyak terlibat pada kegiatan-kegiatan filantropi.
Fenomena lainnya adalah munculnya kelompok-kelompok yang baru belajar suatu ilmu baik itu sains maupun agama dan mereka merasa ahli dalam bidang tersebut. Ini banyak sekali kita temukan baik di media sosial maupun di “milis”. Harus saya akui, saya sendiri pernah terjebak dalam efek ini. Dan saya meminta maaf kepada teman-teman saya yang mungkin pernah tersakiti. Saya menyadari tulisan inipun sebuah paradoks, karena saya sendiri baru membaca beberapa artikel tentang efek Dunning-Kruger, dan sudah berani menuliskannya.
Kabar baiknya penelitian ini memiliki limitasi bahwa subjek penelitian ini merupakan orang-orang Amerika Utara saja. Bisa jadi perbedaan kultur menyebabkan perbedaan kesimpulan. Dan itu telah dikonfirmasi oleh penelitian Heine dan kawan-kawannya pada tahun 2001 yang menemukan bahwa orang-orang Jepang cenderung lebih merasa memiliki kemampuan yang kurang padahal realitanya, mereka memiliki kemampuan dan kompetensi yang baik. Jadi, meskipun ada peluang, tidak semua orang terjebak dalam efek ini.
Lalu bagaimana sebaiknya agar terhindar dari bias kognitif ini. Ada nasihat lama dari Umar bin Khattab yang mungkin perlu kita renungkan baik-baik. Begini nasihat beliau “Ilmu itu memiliki tiga tahapan: Jika memasuki tahapan pertama dia akan sombong, jika memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’ (rendah hati), dan jika memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya kecil dan tidak ada apa-apanya.“
Mari terus belajar
Mantap ustadz … Maa syaa Allah.
SukaSuka