Rumah

Memiliki rumah adalah menjadi mimpi sebagian besar manusia. Rumah tidak hanya menjadi kebutuhan tempat tinggal, namun bagi beberapa orang memiliki rumah sendiri merupakan sebuah prestasi yang menjadi prestise tersendiri. Sebagian ibu akan bangga bercerita kepada kerabat dan tetangga apabila anaknya sudah memiliki rumah sendiri. Ada perempuan memilih lelaki karena dia telah memiliki rumah sendiri.

DSCF2473

Ada banyak cara untuk memiliki rumah. Sebagian ada yang menggunakan kredit KPR, sebagian menunggu warisan orang tua, sebagian menabung untuk bisa membeli dengan tunai, ada yang mencicil dalam membangun rumah, hingga yang paling ekstrim adalah membeli rumah tanpa uang tanpa utang (untuk yang satu ini anda harus mengikuti seminar gratis terlebih dahulu)

Membeli rumah dengan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) adalah cara yang paling banyak ditempuh oleh orang-orang di Indonesia. Paling tidak sejak era berubahnya sawah menjadi bangunan perumahan, banyak sekali jenis-jenis KPR yang ditawarkan oleh bank. Bagi sebagian orang KPR adalah cara haram untuk mendapatkan rumah. Karena masih berbau riba. Namun bagi sebagian yang lainnya, KPR memudahkan mereka untuk mendapatkan rumah yang setiap saat harganya terus mengalami kenaikan. Mereka yang menganggap KPR itu haram beralih dengan cara menabung. Modal mereka hanya satu bahwa Allah akan memberikan rejekinya dari jalan yang tidak diduga untuk memiliki rumah. Banyak dari mereka yang sudah berhasil membuktikan hal tersebut. Memiliki rumah dengan jalan menabung. Tetapi juga tidak sedikit yang sampai bertahun-tahun uang tabungannya belum cukup.

Bagi kaum oportunis, mereka lebih baik menunggu mendapatkan jatah warisan rumah dari orang tua mereka atau dari kakek dan buyut mereka. Daripada berusaha keras untuk memiliki rumah sendiri. Bagi mereka sedikit bersabar menunggu hingga orang tua mereka mengeluarkan wasiat pembagian harta warisan jauh lebih baik daripada harus mengeluarkan uang untuk membeli rumah sendiri. Tentu saja ini tidak berlaku untuk mereka yang orang tuanya belum memilki rumah atau memiliki rumah satu tapi anaknya ada 10 orang.

Dan yang terakhir yang sekarang sedang populer dan muncul di surat kabar nasional adalah meiliki rumah tanpa uang tanpa utang. Saya sendiri belum pernah mengikuti seminar acara tersebut. Tapi logika saya tidak sampai untuk membayangkan memiliki rumah dengan cara ini. Rasa-rasanya hal ini hanya bisa dilakukan oleh penipu kelas kakap. Tapi itu hanya perasaan saya saja.

————————————————————————————————

Saya dan Nurul sudah bersepakat. Untuk memiliki rumah. Lebih tepatnya untuk menginvestasikan sebagian pendapatan kami untuk sebuah rumah. Kami menggunakan jasa salah satu bank Syariah dalam kredit kepemilikan rumah. Rumah kecil nan sederhana. Dan inshaAllah ada keberkahan di dalamnya. Bagi saya yang memiliki pengahsilan tetap, karena saya bukan pengusaha, KPR Syariah adalah pilihan yang tepat. Harga yang kami bayarkan memang lebih tinggi secara angka dari yang ditawarkan oleh pembeli, tapi jika dilihat dari nilai investasi maka 7 tahun lagi ketika kami melunasi rumah kami inshaAllah taksiran harga rumahnya akan melebihi yang kami bayarkan. Meskipun kami juga berjanji sebisa mungkin untuk tidak menjualnya. Karena akan menjadi monumen perjuangan kami bersama. Selain itu, KPR Syariah juga menawarkan cicilan yang tetap dari awal hingga akhir, sehingga harga yang dibayarkan jelas dan kita bisa estimasi kemampuan kita dalam membayar. Hal ini berbeda dengan KPR Bank Konvensional yang jumlah cicilannya fluktuatif. Sehingga ada unsur ketidak jelasan. Bagi saya hal ini tidak diperbolehkan oleh syariat. (Sumpah saya bukan pegawai bank Syariah)

Keyakinan yang senantiasa kami bangun adalah rumah kecil nan sederhana ini adalah salah satu bentuk rizki dari Allah. Rumah ini sesungguhnya bukan milik kami, tapi ia milikNya yang dititipkan kepada kami yang suatu saat Dia yang berhak bisa saja mengambilnya. Begitu pula para penghuninya sesungguhnya semuanya saling dititipkan kepada satu dengan yang lainnya. Kapanpun Dia yang berhak ingin mengambilnya, maka kita harus rela mengembalikannya. Dan setelah itu rumah kita hanya tanah  1 x 2 meter saja.

So, bagi yang masih ngontrak gak usah minder apalagi sampai merasa malu. Semuanya pada asalnya hanyalah mengontrak saja. Dan tidak tahu sampai kapan kontrakan kita akan habis. So, keep strugling for the reason you believe in and don’t forget to be happy. Rumah kita adalah serambi surga. Dan yang menjadikannya demikian bukanlah status rumah itu kontrakan atau bukan, tetapi keshalihan-keshalihan penghuninya.

Jadi masih bangga dengan memiliki rumah? jadi masih bangga dengan mengkoleksi rumah? Bagaimana jika kita buat sekolah atau rumah untuk para yatim saja?

Tinggalkan komentar