Singapore (Part 5): Nasi Lemak, mana lemaknya?

Jalan kaki dengan kaki lecet memang luar biasa. Perutpun mulai kelaparan. Setelah se sebuah hostel. Sesampai di hotel kami langsung menuju sofa yang lagi tidak berpenghuni. Merebahkan tubuh di sana. Sambil menunggu pukul 14.00 waktu Singapura.

Untuk hari pertama kami menginap di hostel. Hostel merupakan sebutan untuk hotel para backpacker. Ciri-ciri dari hostel ini sangat mudah. Murah. Biasanya satu kamar terdiri dari banyak ranjang baik single maupun double atau twin bed. Aku memilih bunc@radius hostel. Karena menurut www.tripadvisor.com hostel tersebut terbaik di kelasnya. Kami cukup merogoh kocek 260 ribu rupiah untuk memesan double bed dengan model asrama 16 orang.

Setelah check ini dan sebagainya kami mendapat 1 kunci elektronik putih untuk kamar dan kamar mandi pria dan 1 kunci electronik pink untuk kamar dan kamar wandi wanita. Kami tidur dengan 16 orang dari beberapa negara. Salahsatunya tepat dihadapan kami sepasang bule, entah mereka suami istri atau baru bertemu kami tidak mengerti. Yang jelas mereka tidur berdua. Juga disebelah kami ada cewek dari Thailand yang tidur dengan pasangannya seorang bule. Sepertinya mereka teman bisnis, sebab dari pengamatan kami meskipun satu ranjang mereka sibuk dengan laptop masing-masing.

Aku membuka ransel yang berisi camilan Happy Toss, memakannya untuk menipu rasa lapar. Kupelankan suara kecapku, takut mengganggu tetangga sekitar.

Sembari menunggu Nurul yang sedang bersih diri ke kamar mandi aku merebahkan tubuhku. Melamun memikirkan bagaimana kami bisa sampai di sini. Tersenyum sendiri memikirkan perjuangan pagi hari waktu keberangkatan kami. Nekatnya kami.

DSCF1189

Setelah Nurul datang aku berbegas ke kamar mandi. Bersih diri. Ketika kembali, sebenarnya kami hendak shalat di kamar itu juga. Karena aku lihat ada celah yang bisa kami manfaatkan untuk shalat secara bergantian. Namun kami tidak tahu arah kiblat. Kami tanya kepada resepsionis hotel. Dan ternyata resepsionisnya muslim. Dia menunjukkan kami jalan ke masjid terdekat. Namanya masjid Al Amin.

Kami mengemasi barang-barang yang kami butuhkan untuk jalan-jalan. Kemudian kami masukkan sisanya ke dalam loker kami. Kami mencari masjid tersebut untuk shalat jamak Dzuhur dan Ashar.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Marina Bay. Koneksi internet kami terputus. Kami melihat peta MRT yang kami meliliki. Kami mencoba memutuskan untuk pergi secara random. Tujuan kami berikutya adalah Harbour Front.

Stasiun MRT Harbour Front ternyata terkoneksi dengan mall yang bernama Vivo City. Di sana kami tak menyangka akan bertemu dengan foodcourt yang menjual makanan yang hampir mirip dengan selera kami. Awalnya kami bingung memilih. Pilihan itu akahirnya jatuh pada sebuah nama makanan yang cukup unik. Nasi Lemak.

Masing-masing kami memesan nasi lemak satu porsi dengan lauk telur dadar. Karena menurut hemat kami, itulah yang paling hemat alias paling murah. Pesananpun jadi. Nasi Putih plus sambal teri plus telur dadar.

Lalu akupun bertanya pada Nurul “Lemaknya mana?”

Tinggalkan komentar